2017-03-18

Tradisi Biadab! Ibu Meninggal Anak di Kubur Hidup-Hidup

Credit: Rainer Maiores

Tidak hanya orok yang dikubur hidup-hidup jika sang ibu meninggal dalam proses persalinan, bayi yang masih menyusui pun akan sulit sekali menghindar dari tradisi dọ-tơm-amí dan akan ikut dikubur juga apabila sang ibu meninggal! Tradisi primitif ini masih ditemukan di daerah Tây Nguyên - Vietnam.

Tây Nguyên adalah kampung halaman dari beberapa kelompok etnik, akan tetapi tradisi primitif dọ-tơm-amí masih sering terjadi pada orang-orang Bana dan Jrai, dua kelompok etnik yang mengklaim diri mereka menghargai kehidupan, baik itu manusia maupun hewan.

Dari masa ke masa, para sesepuh Bana dan Jrai selalu memperingatkan kepada anak dan cucunya yang gemar berburu agar tidak membunuh hewan yang sedang hamil, karena hal tersebut merupakan tindakan yang kejam. Siapapun yang tidak mengindahkan larangan sesepuh dan membunuh hewan yang sedang hamil akan mendapatkan hukuman berat, namun anehnya tradisi dọ-tơm-amí sangat kejam dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Orang-orang Bana dan Jrai sangat bersahabat, mereka tidak memiliki prasangka buruk terhadap orang yang tidak mereka kenal, bahkan mereka akan mengundang untuk makan dan minum lalu menjamu dengan hiburan lokal, mereka juga sangat menghormati sesepuh dan sangat mencintai anak-anak terutama yang masih menyusui.

Seorang wanita Jrai bernama Ro-Cham Luih menjelaskan, anak-anak yang masih menyusui mendapatkan perhatian lebih dikarenakan mereka masih sangat lemah untuk melindungi diri dari bahaya hewan liar dan penyakit.

Bagi sesepuh di distrik Kong Choro, provinsi Gia Lai, melahirkan memiliki makna khusus bagi orang-orang Bana dan Jrai, kepercayaan ini telah diwariskan secara turun-temurun. Menurut mereka semakin banyak anak, akan semakin baik karena akan semakin banyak tenaga untuk membantu pekerjaan.

Seorang warga bana yang bernama Bok Nham mengatakan bahwa pasangan yang tidak subur akan gelisah karena berpikiran tidak akan ada yang merawat mereka di masa tua. "Ada kepercayaan di beberapa desa bahwa dengan adanya banyak anak-anak maka desa akan semakin ramai dan kuat." ujarnya.

Karena itu memiliki dan mendidik anak dianggap penting bagi wanita Bana dan Jrai. Selama kehamilan ada serangkaian ritual untuk mendoakan kesehatan bayi yang ada dalam kandungan, yaitu ritual pemijatan perut dan do'a jika kehamilan memasuki bulan ke-3, lalu 3 bulan kemudian diadakan ritual dan do'a untuk memohon kemudahan dalam proses melahirkan.

Aborsi adalah perbuatan yang sangat terlarang dan dikecam dengan keras, siapapun yang ketahuan melakukan aborsi akan mendapatkan denda yang disebut dengan "Biaya kemalasan," wanita yang melakukan aborsi akan di cap buruk sebagai wanita kejam, dihina dan direndahkan oleh penduduk desa, namun kenapa ada tradisi kejam mengubur bayi jika ibu mereka meninggal?

Sekitar 10 Km dari pusat kota Kon Tum ada beberapa desa, disana akan gampang sekali dijumpai orang-orang Bana dan Xedang. Di desa Kon JoDri jika anda bertanya mengenai tradisi dọ-tơm-amí pada para wanita, mereka akan memperlihatkan ekspresi ketakutan.

Ibu dari 5 orang anak bernama Y Pla membenarkan bahwa tradisi tersebut memang ada dan seorang ibu dari desa Kon Klor bernama Y M 'Lang menegaskan "Jika sang ibu meninggal pada saat melahirkan maka sang orok akan ikut dibawa bersama ibu ke hutan hantu, jika sang ibu meninggal maka sang orok harus ikut meninggal bersama ibunya."

Para sesepuh Bana dan Jrai yang ditanyakan mengenai kapan tradisi ini bermula hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, yang mereka tahu tradisi ini sudah ada sebelum mereka lahir.

Keadaan akan menjadi sulit bagi seorang suami yang kehilangan istri yang dicintainya, dan akan menjadi lebih sulit jika harus menerima kenyataan bahwa anaknya yang baru lahir akan dikubur bersama istrinya yang meninggal, akan tetapi tradisi ini memaksa, kebanyakan suami yang kehilangan istri pada proses persalinan akan membiarkan anaknya dikuburkan hidup-hidup.

Y M 'Lang menambahkan lagi, tidak hanya bayi yang ibunya meninggal pada proses persalinan akan menemui kematian, bayi yang masih menyusui pun, jika ibunya meninggal akan sulit lepas dari dọ-tơm-amí, masing-masing desa pun memiliki kebiasaan berbeda, ada yang dikubur hidup-hidup, ada juga yang ditinggalkan begitu saja di hutan hantu.

Para sesepuh yang menyaksikan atau terlibat dalam tradisi ini hanya menjelaskan bahwa kehidupan mereka yang terpencil, kasar, diliputi kemiskinan, dan belantara akan menjadi tempat yang sangat kejam bagi bayi yang kehilangan ibunya, tanpa susu mereka akan kelaparan, oleh karena itu tradisi dọ-tơm-amí akan membantu anak pergi ke dunia hantu dimana dia akan dirawat dengan baik oleh ibunya.

Tradisi dọ-tơm-amí akan sulit sekali diterima oleh masyarakat beradab, bahkan akan dikutuk dan dicela, selama bertahun-tahun banyak anak yang tidak berdosa telah menjadi korban tradisi yang tidak diketahui asal-usulnya ini, meskipun para sesepuh mengatakan bahwa tradisi ini sudah lama ditinggalkan, namun dari keterangan dari beberapa orang, kemungkinan di beberapa tempat masih terjadi praktek ini. Sangat biadab jika di masa sekarang praktik seperti ini masih dilakukan.

2017-01-29

Kenapa Poligami di Pandang Asing dan Aneh Oleh Masyarakat Modern?

Poligami (illustrasi)
Bukti-bukti dari hasil studi lapangan menunjukan bahwa meniru nenek moyang adalah sifat alamiah manusia. Dan sistem perkawinan para nenek moyang didominasi oleh poligini (satu suami beberapa istri). Kebanyakan kaum pria terdahulu berhasrat untuk melakukan poligini (meskipun kebanyakan juga tidak cukup impresif untuk memikat banyak wanita), dan beberapa wanita lebih suka menjadi istri-muda dari seorang pria yang benar-benar impresif daripada menjadi istri satu-satunya dari pria yang biasa-biasa saja.

Dengan kata lain, perilaku perkawinan manusia dulunya dibangun oleh, dan untuk, sebuah dunia yang mana perjuangan untuk poligini seringkali menguntungkan secara reproduktif. Itulah kenapa orang-orang yang hidup dalam masyarakat modern tampaknya cenderung ke arah poligini, meskipun dalam kultur-kultur yang telah berusaha untuk menghapuskannya.

Poin terakhir mengangkat sebuah pertanyaan kunci: Kenapa banyak kultur yang berusaha untuk menghapusnya? jika lingkungan nenek moyang kita dulu sangat poligini, kenapa "Secara sosial memaksakan" monogami-larangan moral dan legal kepada poligini-sangat lumrah dalam masyarakat modern? atau lebih akurat lagi kenapa penolakan terhadap poligini lebih umum di dunia barat? (Poligini masih tetap legal dan umum dalam masyarakat non-barat, terutama Afrika dan negara-negara Islam).

Penyebaran monogami dibarat terkait dengan pengaruh kekristenan, tapi pengaruh tersebut tidak seperti yang anda pikirkan. Kekristenan mainstream selalu menyokong dan memaksakan monogami, dan seiring kristen menyebar ke seluruh Eropa pada abad-abad setelah jatuhnya Roma, monogami juga ikut tersebar bersamanya.

Akan tetapi, pengutukan atas poligini tidak segampang yang para pemimpin gereja anti-poligi pikirkan, karena tidak ada ayat-ayat alkitab yang secara eksplisit melarang pernikahan plural. Dan memang, para pemimpin dari sekte-sekte Kristen poligini yang memisahkan diri, seperti German Anabaptists abad ke-16 dan American Mormons abad ke-19, selalu menekankan bahwa beberapa tokoh utama dari Perjanjian Lama adalah poliginis. Abraham (Ibrahim AS) contohnya, memiliki dua istri sekaligus, dan Solomon (Sulaiman AS) memiliki 700 istri (dan 300 selir).

Akan tetapi pengkaitan Kekristenan dengan awal mula penolakan poligini perlahan melemah, seiring dengan ditemukannya fakta bahwa pemaksaan monogami secara sosial pertama kali terjadi pada masa Yunani kuno dan Roma, berabad-abad sebelum ada kekristenan. Hukum Yunani-Roma melarang pria manapun untuk memiliki beberapa istri dalam sekali waktu.

Namun, secara de-facto bentuk poligini seperti selir dan berhubungan seks dengan budak tetap ditoleransi dalam masyarakat tersebut. Kendatipun begitu hukum anti-poligini membuat masyarakat Yunani-Roma relatif egaliter secara seksual, karena dengan mencegah para pria dari kaum elit secara legal memperoleh beberapa istri, mereka meningkatkan kemampuan para pria dengan status sosial rendah memperoleh istri.

Sehingga pada saat agama Kristen mulai menyebar melalui Kekaisaran Romawi di abad pertama Masehi, monogami sudah memiliki kedudukan yang kuat. Akan tetapi meskipun kristen tidak memperkenalkan pemaksaan monogami secara sosial kepada dunia barat, ia secara penuh mendukung ide ini, Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dukungan penuh terhadap monogami ini yang pada akhirnya menyebabkan penyebaran monogami di seluruh dunia Barat.

Bagimana cara penyebaran monogami? tidak ada kesepakatan mengenai hal ini, namun jawaban yang paling masuk akal adalah dikarenakan secara sejarah, kelompok pro-monogami secara militer diuntungkan.

Para pemimpin Yunani-Roma dan Eropa Kuno yang menganut hukum anti-poligini berinvestasi habis-habisan pada bisnis perang, status sosial dan kehidupan mereka benar-benar bergantung pada kemampuan untuk memelihara tentara berjumlah besar dan didanai dengan baik. Dan pemaksaan monogami menghasilkan tentara dengan jumlah besar dan lebih baik, karena kelompok monogami dapat berkembang lebih besar daripada kelompok poligini.

Bagaimana mungkin kelompok monogami berkembang lebih besar? karena para pria menginginkan istri, dan jika anda membutuhkan banyak pria untuk tim anda, anda harus menawarkan mereka sesuatu yang mereka inginkan.

Dikelompok monogami, para pria dengan status yang tinggi tidak bisa memiliki wanita sebanyak yang mereka mau. semakin rata wanita yang terdistribusi di kelompok monogami semakin banyak pria yang bisa memiliki istri, dan semakin sedikit pria yang pergi untuk mencari istri ke tempat lain. semakin besar suatu kelompok, maka semakin banyak pria yang bisa ikut berperang dan membayar pajak untuk membiayai perang.

Monogami yang dipaksakan secara sosial, oleh sebab itu, muncul di dunia barat sebagai pengaturan timbal balik dimana para elit memperbolehkan pria dengan status sosial yang rendah untuk menikah dalam pertukaran untuk pengabdian militer dan kontribusi pajak.

Setelah monogami sosial yang dipaksakan memiliki kedudukan yang kuat, masyarakat barat menjadi terbiasa dan banyak yang memandang ini sebagai perkawinan manusia yang wajar, dan memandang praktik poligini yang dulu universal sebagai sesuatu yang asing dan aneh. Sebagaimana yang ditulis oleh Laura Betzig,
"Masyarakat modern, mereka yang tumbuh dari Kristen abad pertengahan sangat monogami. Mereka terlihat, faktanya, secara konsisten monogami yang membuat apa yang dulunya sebuah kaidah sekarang terlihat seperti sebuah pengecualian yang eksotis."